SERUNYA MAKEPUNG LAMPIT DI SAWAH JEMBRANA

Jembrana memiliki banyak tradisi dan kesenian yang menarik. Dalam kesenian musik dari bambu, ada Jegog, Bungbung, dan Tingklik. Jembrana juga terkenal dengan Makepung yang menjadi salah satu ikon budaya Bali Barat. Selain Makepung, ada juga Makepung Lampit yang tidak kalah menarik dan menjadi bagian dari budaya Jembrana.

PENGERTIAN MAKEPUNG LAMPIT

Makepung Lampit adalah tradisi unik dari Jembrana, Bali Barat. Tradisi ini merupakan lomba balap kerbau yang dilakukan di sawah yang berlumpur. Kata makepung berarti “mengejar” dalam bahasa Bali. Sementara itu, lampit adalah bentuk Makepung yang dilakukan di sawah basah. Dua ekor kerbau berlari dengan cepat melewati sawah sambil menarik sebuah alat kecil yang dinaiki oleh joki.

Sebelum lomba, kerbau-kerbau dihias dengan hiasan kepala, lonceng, dan kain berwarna-warni. Tradisi ini sudah dilakukan sejak dahulu dan berkaitan dengan kehidupan petani di Jembrana. Makepung Lampit menjadi salah satu budaya khas Jembrana yang menarik dan patut kita kenal serta lestarikan.

Gambar 01. Perlombaan Makepung Lampit di Jembrana

ASAL USUL MAKEPUNG LAMPIT

Dahulu, Makepung Lampit berawal dari kegiatan para petani saat membajak sawah. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Sebelum musim tanam padi, para petani membajak sawah menggunakan bajak. Mereka kemudian saling kejar dan berlomba di tengah sawah. Dari kegiatan inilah muncul tradisi Makepung Lampit. Sampai sekarang, Makepung Lampit masih dilestarikan oleh masyarakat Jembrana sebagai salah satu budaya khas daerah.

KEUNIKAN MAKEPUNG LAMPIT

Makepung Lampit memiliki beberapa keunikan. Lomba ini dilakukan di sawah yang berlumpur. Namun, lumpurnya tidak boleh terlalu dalam. Petak sawah yang digunakan memiliki panjang minimal 80 meter dan lebar minimal 20 meter, dengan kedalaman lumpur sekitar 10 sentimeter. Saat ini, banyak sawah memiliki petak yang lebih sempit dan lumpur yang cukup dalam. Oleh karena itu, para peserta Makepung harus memilih sawah yang sesuai agar kerbau dapat berlari dengan aman.

Makepung Lampit juga menggunakan peralatan tradisional yang sekarang sudah jarang ditemukan. Salah satunya adalah lampit atau bajak yang dahulu digunakan petani untuk membajak sawah. Dalam Makepung Lampit, kerbau hanya menggunakan pecut agar dapat berlari lebih cepat. Alat pemukul yang dapat melukai kerbau tidak digunakan.

Sekarang, petani lebih banyak menggunakan traktor untuk membajak sawah. Akibatnya, lampit atau bajak tradisional semakin jarang digunakan. Untuk melestarikan Makepung Lampit, para peserta membuat kembali peralatan tradisional tersebut agar tradisi ini tetap dikenal oleh generasi muda.

PERBEDAAN MAKEPUNG LAMPIT DAN MAKEPUNG CIKAR

Makepung Lampit memiliki cara perlombaan yang berbeda dengan Makepung Cikar. Pada Makepung Cikar, kerbau menarik cikar atau gerobak. Sementara itu, pada Makepung Lampit, kerbau menarik lampit atau bajak sawah tradisional yang sekarang sudah jarang digunakan.

Perlombaan Makepung Lampit dilakukan di sawah yang berair dan berlumpur. Para kerbau akan berlari melewati lintasan sawah tersebut sambil menarik lampit. Makepung Lampit biasanya menjadi perlombaan penutup dalam rangkaian kegiatan Makepung di Jembrana setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga agar tradisi Makepung tetap ada dan terus dikenal oleh anak-anak serta generasi muda sebagai salah satu budaya khas Jembrana.

1 komentar untuk "SERUNYA MAKEPUNG LAMPIT DI SAWAH JEMBRANA"

  1. Ringkasan Cerita: Mekepung Lampit

    Mekepung Lampit adalah tradisi balap kerbau khas Kabupaten Jembrana, Bali Barat, yang berakar dari kehidupan agraris masyarakat setempat.

     

    Asal-Usul

    Tradisi ini bermula sekitar tahun 1918, dari kegiatan gotong royong petani saat menjelang musim tanam padi.

    Para petani bersama-sama meratakan tanah sawah yang disebut melasah atau ngelampit menggunakan sepasang kerbau dan papan kayu bernama lampit.

    Karena semangat kerja sama yang tinggi, perlombaan adu cepat pun muncul, dan akhirnya berkembang menjadi tradisi balap yang terorganisir .

     

    Cara Berlangsung

    Berikut detail cara tradisi ini berlangsung:

    - Lokasi: Di sawah basah berlumpur, berbeda dengan Mekepung Darat yang digelar di lintasan kering .
    - Alat: Dua ekor kerbau menarik papan kayu lampit; joki berdiri di atasnya mengendalikan kerbau dengan pecut .
    - Lintasan: Sekitar 100 meter lurus di sawah yang tergenang air.
    - Kerbau: Dihiasi ornamen warna-warni, termasuk hiasan kepala rumbing dan lonceng genta di leher .
    - Pakaian Joki: Berbusana ala prajurit kerajaan Bali zaman dahulu—destar, selendang, celana panjang tanpa alas kaki, dengan pedang bersarung poleng di pinggang .

     

    Makna & Filosofi

    Tradisi ini bukan sekadar balapan, melainkan:

    - Simbol kebersamaan dan gotong royong petani dalam sistem subak .
    - Ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan harapan untuk musim tanam yang baik .
    - Pelestarian warisan budaya yang kini juga menjadi daya tarik wisata budaya .

     

    Perkembangan Saat Ini

    Mekepung Lampit sempat terhenti selama beberapa dekade, namun kini telah dihidupkan kembali oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

    Setiap tahun puluhan pasangan kerbau berkompetisi, diiringi musik, parade kostum, dan kemeriahan yang mempererat ikatan komunitas .

     

    Intinya: Mekepung Lampit bermula dari gotong royong meratakan sawah → tumbuh menjadi lomba adu cepat → kini menjadi warisan budaya balap kerbau di sawah lumpur yang sarat makna kebersamaan dan syukur.
    😇😇

    BalasHapus