ANAK AYAM DAN PELANGI (PITIK LAN BIANGLALAH)



PENULIS
  1. Ni Kadek Ashka Gauri Kutwi
  2. I Gusti Ayu Kadek Dwi Lestari
PENERJEMAH
  • I Made Surianta, S.Pd
ILUSTRATOR
  • I Gusti Ayu Kadek Dwi Lestari
BAHASA
  • Dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali)
JENJANG PEMBACA
  • Pembaca Awal (B1)
DESKRIPSI CERITA
5 Anak ayam yang saling berlomba - lomba untuk mengejar dan meraih Pelangi. Dapatkah mereka meraihnya? Bacalah cerita ini dan temukan jawabannya.

  


13 komentar untuk "ANAK AYAM DAN PELANGI (PITIK LAN BIANGLALAH)"

  1. ANAK AYAM DAN PELANGI

    Disebuah desa hiduplah seekor induk ayam dengan 5 anak ayam yang mungil.Mereka suka berlari sambil mengejar kupu-kupu dan meencari biji-bijian di tanah.Ketika asik bermain,tiba-tiba langit meendung dan turun hujan.Anak ayam dan induknya mencari tempat berteduh.Beberapa menit,hujanpun reda.Merekapun lanjut bermain,tiba-tiba muncul pelangi yang sangat indah.anak ayam sangat penasaran,mereka bereari seolah ingin menyentuh pelangi.Tapi semakin mereka berlari,pelangi tidak bisa disentuh.Akhirnya mereka berhenti di pohon rindang.Induk ayam mendekat dan berkata lembut.Pelangi memang tidak bisa di raih dengan tangan tapi bisa dilihat keindahannya dengan mata.Keindahan kadang bukan dimiliki tapi untuk di syukuri.

    Pesan Moral :Tidak semua yg kita inginkan bisa di raih dan dimiliki,tetapi apapun itu patut kita syukuri.

    BalasHapus
  2. Seekor induk ayam dengan 5 anaknya suka berlari di rumput mengejar kupu kupu dan mencari biji bijian di tanah. Ketika mereka asik bermain tiba tiba langit mendung dan turun hujan. Anak Ayam dan induknya berlari mencari tempat teduh. Beberapa menit kemudian hujan reda,langit kembali terang. Merekapun lanjut bermain,tiba tiba muncullah pelangi yang indah. Anaknya sangat penasaran dan berlomba berlari seolah ingin menyentuh pelangi.Tetapi semangkin berlari,pelangi tidak pernah dapat di sentuh.
    Dari sifat pelangi:
    Kita hanya bisa melihatnya,bukan memegangnya.Beberapa hal dalam hidup memang hanya untuk dinikmati,bukan dimiliki.

    BalasHapus
  3. Di sebuah desa yang asri,hiduplah seekor induk ayam dengan 5 anak Ayam yang mungil. Mereka suka berlarian di rumput mengejar kupu-kupu dan mencari biji-bijian di tanah untuk di makan. Ketika mereka asyik bermain, tiba-tiba langit mulai gelap dan turun hujan. Anak ayam dan induknya berlari mencari tempat untuk meneduh. Beberapa saat kemudian,hujan pun mulai reda. Mereka melihat langit mulai terang kembali. Mereka pun lanjut bermain bersama, tiba-tiba muncullah pelangi yang sangat indah. "Ibu apa itu yang melengkung indah di langit?" Tanya anak Ayam kepada ibunya "itu pelangi nak" jawab sang ibu sembari melihat pelangi. Anak-anak ayam mulai penasaran. Mereka berlomba-lomba berlari seolah-olah ingin menyentuh pelangi itu. "Aku mau ambil warna biru" "Aku mau ambil warna merah" "Aku mau semua warna",kata anak Ayam sambil mengepakkan sayapnya. Tapi semakin mereka berlari,semakin menjauh pelangi itu. Mereka akhirnya berhenti di bawah pohon rindang. Induk ayam mendekat sebari berkata lembut "Anak-anakku sayang pelangi itu tidak bisa kita raih dengan tangan, tapi kita bisa menikmati keindahan pemandangan ini dengan mata kita". Keindahan memang bisa kita miliki namun terkadang keindahan sebaiknya kita nikmati dan syukuri.








    Pesan moral:bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berada pada hal-hal yang indah namun jauh dan mustahil di gapai, melainkan pada rasa syukur atas apa yang sudah kita syukuri.

    BalasHapus
  4. di sebuah desa hiduplah 5 ekor anak ayam yang mungil.meraka suka berlari di rumput yang hijau mereka sedang mengejar kupu puku dan mencari biji bijian untuk mereka makan.ketika mereka sedang mencari makanan. langit pun mendung mereka bergegas mencari tempat berteduh. hujan pun reda meraka melihat pelangi.wah di sana ada pelangi mereka berusaha mengejar pelangi itu.mereka lelah induk nya berkata bahwa pelangi itu tidak bisa di raih tapi kita menikmati nya sebagai keindahan alam. amanat kita tidak boleh meraih nya.sebaiknnya kita bersyukur bisa melihatnya

    BalasHapus
  5. Disebuah Desa, hidup seekor Ayam dengan 5 anaknya. Mereka suka berlari di rumput mengejar kupu-kupu dan mencari biji-bijian di tanah. Tiba-tiba mendung dan turun hujan anak ayam dan induknya mencari tempat teduh. Beberapa menit kemudian hujan mulai reda. Tiba-tiba muncul pelangi yang indah. Anak-anak ayam sangat penasaran mereka berlomba-lomba berlari ingin menyentuh pelangi. Mereka berebut mau mengambil warna-warna yang ada pada pelangi. Tetapi pelangi tidak pernah bisa disentuh. Induk ayam berkata pelangi memang tidak bisa kita raih dengan tangan, tetapi kita bisa nikmati dengan mata.Keindahan kadang bukan untuk dimiliki tapi untuk disyukuri.

    Pesan yg termuat dalam cerita ini :
    Hendaknya bersyukur hanya dengan melihat, walaupun tidak dapat meraihnya.

    BalasHapus
  6. Hal yg dapat kita petik dari cerita di atas adalah.
    1.kita harus bersyukur dengan keindahan alam milik tuhan.

    BalasHapus
  7. Ni Kadek Regina Intan Cahyani
    Kelas 6

    disebuah desa, hiduplah seekor ibu ayam dan 5 anak ayam mereka suka berlari sambil mengejar kupu - kupu dan mencari biji bijian di tanah , saat mereka asik bermain tiba tiba langit mendung dan hujan turun , anak ayam dan induknya pun mencari tempat teduh beberapa menit kemudian hujan pun reda dan langit mulai terang mereka pun lanjut bermain tiba tiba muncul pelangi yang sangat indah , anak ayam pun berkata " ibu apa itu yang melengkung di langit " ibu pun menjawab " itu namanya pelangi nak " anak ayam sangat penasaran dan berlomba lomba mengejar pelangi tersebut seolah olah ingin menyentuhnya , " aku mau yang warna merah "
    " aku mau yang warna biru "
    " aku mau semua warna "
    kata anak ayam sambil mengepak sayapnya , tapi semakin mereka berlari pelangi tidak pernah tersentuh mereka pun berhenti di bawah pohon rindang , induk ayam pun mendekat dan berbicara lembut kepada anak ayam
    " pelangi memang tidak bisa kita raih dengan tangan , tapi kita bisa nikmati dengan mata . keindah kadang bukan untuk dimiliki , tapi untuk disyukuri ".

    pesan moral :
    1. Belajar Bersyukur
    2. Menikmati Proses dan Kehidupan
    3. Menerima Keterbatasan dengan Bijak

    BalasHapus
  8. Di sebuah desa, hiduplah seekor induk ayam bersama lima anak ayamnya. Mereka senang bermain, berlari mengejar kupu-kupu, dan mencari biji-bijian. Suatu hari, hujan turun sehingga mereka mencari tempat untuk berteduh.

    Setelah hujan reda, muncul sebuah pelangi yang sangat indah. Kelima anak ayam merasa penasaran dan berlomba-lomba mengejar pelangi karena ingin menyentuh serta mengambil warna-warnanya. Namun, semakin mereka berlari, pelangi semakin jauh dan tidak dapat disentuh.

    Akhirnya, induk ayam menjelaskan bahwa pelangi memang tidak dapat diraih dengan tangan. Mereka hanya dapat menikmati keindahannya dengan melihat dan mensyukurinya. Dari cerita tersebut, kita belajar bahwa tidak semua hal yang indah harus dimiliki; terkadang kita cukup menikmati dan mensyukurinya.

    BalasHapus
  9. Di sebuah desa tersapat se ekor induk ayam beserta ke lima anak nya. Mereka gemar mencari biji bijian serta mengejar kupu kupu. Suatu hari ketika hujan reda muncul sebuah pelangi yang mempunyai ber aneka ragam warna terlihat dari bawah pohon tempat induk ayam dan ke 5 anak nya berteduh. Anak anak ayam takjub akan ke indahan pelangi, mereka berlomba lomba ingin meraih pelangi tersebut. Ibu ayam pun menjelaskan bahwa pelangi yang indah itu tidak bisa mereka raih tetapi bisa mereka nikmati melalui pemandangan yang indah.

    Tidak semua hal yang indah dan kita idamkan bisa kita miliki.
    Kadang kita hanya bisa menikmatinya lewat mata yang menjadikan nya pemandangan indah.

    BalasHapus
  10. Nama: bagus dinar kls 6. Disebuah Desa, hidup seekor Ayam dengan 5 anaknya. Mereka suka berlari di rumput mengejar kupu-kupu dan mencari biji-bijian di tanah. Tiba-tiba mendung dan turun hujan anak ayam dan induknya mencari tempat teduh. Beberapa menit kemudian hujan mulai reda. Tiba-tiba muncul pelangi yang indah. Anak-anak ayam sangat penasaran mereka berlomba-lomba berlari ingin menyentuh pelangi. Mereka berebut mau mengambil warna-warna yang ada pada pelangi. Tetapi pelangi tidak pernah bisa disentuh. Induk ayam berkata pelangi memang tidak bisa kita raih dengan tangan, tetapi kita bisa nikmati dengan mata.Keindahan kadang bukan untuk dimiliki tapi untuk disyukuri.

    Pesan yg termuat dalam cerita ini :
    Hendaknya bersyukur hanya dengan melihat, walaupun tidak dapat meraihnya.

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Nama:kadek kiran suhita putri kls:4 no:14 pada suhatu hari ada seekor induk ayam dan 5 anak: anaknya mereka senang sekali berlari-larian mecari kupu-kupu keesokan harinya datang hujan deras mereka berlari mencari tempat bertebuh saat hujan mulai reda merekapun keluar dari tempat tersebut disama ke5 anak-anaknya punmelihat pelangi yang indah mereka berlomba-lomba merahi pelangi tersebut induknya pun berkata hei naak-anak pelangi itu tidak bisa di raih hanya bisa dilihat saja kata induknya anak anaknya pun berkata oohh begitu ya. Bu. Meraka pun lanjut lari² sambil mengejar kupu² TAMAT
    Nasehat:
    Hedaknyabersyuku hanya dengan melihat,walaupun tidak bisa merahinya

    BalasHapus
  13. ๐——๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐—ธ ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—บ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐Ÿฑ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—ธ๐˜‚๐—ฝ๐˜‚-๐—ธ๐˜‚๐—ฝ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ถ ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ ๐—ต๐˜‚๐—ท๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ผ๐—ต๐—ผ๐—ป ๐—ต๐˜‚๐—ท๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ฐ๐˜‚๐—น ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—บ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ


    ๐—ž๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ฟ: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐—บ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ธ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต.

    BalasHapus